Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Indonesia masih menghadapi beban TB yang tinggi. Menurut WHO, sekitar 1,1 juta kasus TB diperkirakan terjadi di Indonesia pada 2024, atau sekitar 10% dari seluruh kasus TB baru di dunia. Selain tingginya estimasi kasus, Indonesia juga masih menghadapi kesenjangan antara jumlah kasus yang diperkirakan dan kasus yang berhasil ditemukan serta dilaporkan.
Dalam hal ini lingkungan sekolah juga patut menjadi perhatian. Sekolah sebagai tempat bagi siswa dalam aktivitas yang berlangsung secara rutin. Ketika terdapat kasus TBC menular yang belum diketahui, terdapat peluang terjadinya paparan pada lingkungan di sekitarnya.
Waspada TBC di Sekolah
TBC tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak dan remaja juga dapat mengalami TBC, sementara kelompok usia anak diketahui masih menghadapi tantangan dimana WHO mencatat bahwa sebagian kasus TBC pada kelompok rentan, termasuk anak, masih belum teridentifikasi atau terlaporkan.
Sekolah menjadi lingkungan yang penting karena kegiatan didalamnya yang berlangsung dengan intensitas tinggi. Siswa berada di ruang kelas bersama dengan teman dan guru selama berjam-jam, kemudian berpindah ke kantin, mengikuti ekskul, berangkat dan pulang sekolah. Berbagai kegiatan tersebut bukan berarti sekolah otomatis menjadi pusat penularan TBC, tetapi keberadaan kasus TBC yang menular dapat menjadi perhatian apabila deteksi dan penanganannya terlambat.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan anak sebagai kelompok yang perlu diperhatikan dalam pencegahan TBC. Anak dapat tertular terutama ketika memiliki kontak erat dengan penderita TBC, termasuk anggota keluarga yang terjangkit TBC. Karena itu, pengendalian TBC pada anak tidak hanya berfokus pada rumah, tetapi juga perlu mempertimbangkan lingkungan tempat mereka belajar dan beraktivitas. Selain aspek kesehatan fisik, TBC dapat berdampak pada kehidupan akademik. Keluhan seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, atau penurunan kondisi tubuh dapat mengganggu kehadiran dan konsentrasi siswa.
Karena itu, edukasi menjadi komponen penting. Siswa, guru, dan orang tua perlu memahami bahwa TBC dapat dicegah dan diobati, serta bahwa seseorang yang mungkin mengalami TBC membutuhkan akses terhadap pemeriksaan dan penanganan yang tepat, bukan pengucilan.
Penularan TBC di Sekolah
Penyebaran utama TBC adalah udara. Ketika seseorang dengan TBC paru yang menular batuk, bersin, atau berbicara, bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat berada di udara dan kemudian terhirup orang lain. Risiko penularan menjadi lebih relevan ketika terjadi kontak erat atau berulang.
Keberadaan kasus yang menular, lamanya paparan, kedekatan kontak, ventilasi, serta kondisi individu yang terpajan semuanya dapat mempengaruhi risiko. Oleh sebab itu, pendekatan pencegahan harus bersifat komprehensif.
Deteksi Dini sebagai Komponen Penting
Indonesia masih menghadapi kesenjangan penemuan kasus; WHO memperkirakan sedikitnya satu dari empat kasus TBC secara keseluruhan belum terlaporkan atau belum terdiagnosis, dengan lebih dari 140.000 kasus yang belum terdiagnosis pada 2023.
Ketika gejala yang mencurigakan ditemukan, langkah yang tepat bukan melakukan diagnosis sendiri, melainkan melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan terdekat. Pemeriksaan yang sesuai dapat membantu menentukan apakah seseorang benar-benar mengalami TBC dan perlu melakukan pemeriksaan lanjutan.
Mengenal ACCU-TELL® TB Cassette

Salah satu produk diagnostik yang tersedia untuk pemeriksaan terkait TBC adalah ACCU-TELL® TB Cassette. Rapid test ini menggunakan prinsip immunoassay kromatografi cepat untuk mendeteksi secara kualitatif antibodi terhadap Mycobacterium tuberculosis pada sampel darah utuh, serum, atau plasma. Hasil dapat diinterpretasikan dalam sekitar 10 menit. ACCU-TELL® TB Cassette juga telah melalui uji klinis dengan hasil sensitivitas 83,8%, spesifisitas 98,8%, dan akurasi 95,7%.
Meski demikian, penting untuk memahami tujuan pemeriksaannya. Tes berbasis antibodi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk mendiagnosis TBC aktif. Diagnosis TBC aktif tetap memerlukan evaluasi klinis serta metode diagnostik yang sesuai. Dengan demikian, hasil pemeriksaan ACCU-TELL® TBC Cassette dapat menjadi informasi pendukung dalam proses skrining, tetapi interpretasinya tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis dan pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan.
Upaya pengendalian TBC di lingkungan sekolah perlu menekankan pentingnya skrining dan deteksi dini. Dengan mengenali kemungkinan kasus sejak awal, pemeriksaan dan penanganan dapat dilakukan lebih cepat sehingga risiko penularan dapat ditekan. Karena itu, skrining TBC menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat, aman, dan responsif terhadap risiko kesehatan.
Referensi
- World Health Organization (WHO). Indonesia Charts Next Phase of TBC Response Through National Programme Review. 8 January 2026.
- World Health Organization (WHO). Strengthening TBC Surveillance to Accelerate Indonesia’s Path to Elimination. 1 July 2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Not Just a Myth: 10 Evidence-Based Tips to Prevent TBC in Children.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Lembar Balik TBC untuk Kader. Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit.
- World Health Organization (WHO). WHO Operational Handbook on Tuberculosis: Module 5 – Management of Tuberculosis in Children and Adolescents / environmental and infection-control guidance.
- World Health Organization (WHO). Commercial Serological Tests for Diagnosis of Tuberculosis.