image article
05 May 2026
Pentingnya Skrining Ibu Hamil untuk Deteksi Dini Risiko Kehamilan

Kehamilan merupakan proses fisiologis yang normal, namun tetap memiliki risiko komplikasi yang dapat membahayakan ibu maupun janin. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) menjadi sangat penting, terutama melalui skrining yang dilakukan secara rutin.

Berdasarkan rekomendasi World Health Organization (WHO), skrining dalam pelayanan antenatal bertujuan untuk mendeteksi secara dini faktor risiko serta mencegah komplikasi. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menekankan pentingnya pemeriksaan terpadu untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

 

1. Skrining Dimulai Sejak Kapan?

Skrining kehamilan sebaiknya dimulai sejak trimester pertama (≤12 minggu kehamilan) dan dilakukan secara berkala hingga persalinan.

WHO merekomendasikan minimal 8 kali kunjungan antenatal (ANC) selama kehamilan agar kondisi ibu dan janin dapat dipantau secara optimal sejak dini. Pemeriksaan awal ini menjadi krusial untuk mengidentifikasi risiko kehamilan sedini mungkin.

 

2. Apa Saja Skrining pada Ibu Hamil?

  1. Skrining Pemeriksaan Dasar (ANC Rutin)

Sebagai langkah awal, ibu hamil perlu menjalani pemeriksaan dasar, meliputi:

    • Tekanan darah (deteksi preeklamsia)
    • Berat badan dan status gizi (LILA)
    • Tinggi fundus uteri
    • Denyut jantung janin

Pemeriksaan ini membantu tenaga kesehatan memantau perkembangan kehamilan secara menyeluruh.

  1. Skrining Anemia (Hemoglobin/Hb)

Anemia dapat meningkatkan risiko perdarahan dan kelahiran prematur, sehingga pemeriksaan Hb perlu dilakukan secara rutin.

  1. Skrining Diabetes Gestasional (Glukosa Darah)

Kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi seperti bayi besar (macrosomia) dan persalinan berisiko.

  1. Skrining Penyakit Menular (Sifilis)

Sifilis dapat menyebabkan keguguran maupun infeksi bawaan pada bayi, sehingga skrining menjadi bagian penting dalam pencegahan.

 

3. Mengapa Skrining Ibu Hamil Itu Penting?

Skrining memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi, antara lain:

  • Membantu deteksi dini komplikasi seperti anemia, diabetes gestasional, dan infeksi
  • Memungkinkan penanganan lebih cepat dan tepat
  • Mencegah risiko kehamilan yang lebih berat
  • Mendukung kehamilan yang sehat dan terpantau

 

4. Alat Pendukung Skrining Ibu Hamil

Seiring perkembangan teknologi, skrining kini dapat dilakukan dengan lebih cepat, praktis, dan efisien menggunakan alat diagnostik yang tepat, sehingga membantu tenaga kesehatan—terutama bidan—dalam memberikan pelayanan optimal.

Beberapa alat yang dapat mendukung skrining antara lain:

1. Pemeriksaan hemoglobin (Hb)

HemoSmart GOLD Hemoglobin Screening Meter

    • Volume sample darah kecil (1 µL)
    • Rentang pengukuran lebar (4-24 g/dl)
    • Dilengkapi strip ejector
    • Waktu pengukuran hanya 5 detik
    • Pengukuran 2 parameter (hemoglobin & hematokrit)

2. Pemeriksaan glukosa darah

GlucoSure AutoCode Blood Glucose Monitoring System

    • Ukuran kecil mudah dibawa
    • Alat dapat terhubung dengan computer
    • Sudah tidak memerlukan chip code
    • Sample darah yang dibutuhkan sedikit (0,6 µL)
    • Waktu pengukuran hanya 6 detik

3. Pemeriksaan sifilis

ACCU-TELL® Rapid Syphilis Test (Whole Blood/Serum/Plasma)

    • Menggunakan prinsip kerja immunoassay kromatografi cepat
    • Hasil dapat diinterpretasi hanya dalam 5 menit
    • Sensitifitas >99%; spesifitas 99,7%; dan akurasi 99,8%

 

Kesimpulan

Skrining ibu hamil merupakan langkah penting dalam mendeteksi dini berbagai risiko kehamilan. Dengan skrining yang dimulai sejak awal dan dilakukan secara rutin, berbagai komplikasi dapat dicegah atau ditangani lebih cepat.

Didukung dengan alat pemeriksaan yang praktis dan cepat, tenaga kesehatan—terutama bidan—dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal. Hal ini berperan besar dalam menciptakan kehamilan yang sehat serta menurunkan risiko komplikasi bagi ibu dan bayi.

 


Referensi

  1. World Health Organization (WHO). WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: WHO; 2016.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. World Health Organization (WHO). Global Guidance on Screening and Treatment of Pregnant Women for HIV, Syphilis and Hepatitis B.
  4. Haider BA, et al. Anemia, prenatal iron use, and risk of adverse pregnancy outcomes: systematic review and meta-analysis. BMJ.
  5. Farrar D, et al. Hyperglycemia and risk of adverse perinatal outcomes: systematic review and meta-analysis. BMJ.
  6. Gomez GB, et al. Untreated maternal syphilis and adverse outcomes of pregnancy: a systematic review and meta-analysis. PLOS Medicine.
Tag
Syphilis
Gula Darah
Hemoglobin & Hematrokrit (Hb & Ht)
Bagikan
Artikel Terkait